Read More

DPRD Jatim Dorong Pemprov Garap “Sabuk Wisata Desa Malang Raya” Guna Atasi Keterbatasan Fiskal.

SURABAYA | ROHA NEWS — Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Daerah Pemilihan (Dapil) Malang Raya, Puguh Wiji Pamungkas, menggagas konsep penguatan kawasan aglomerasi pariwisata yang diistilahkan sebagai "Sabuk Wisata Desa Malang Raya". 

 

Langkah ini dinilai menjadi solusi strategis untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tengah situasi keterbatasan anggaran atau defisit fiskal daerah.

 

Puguh menjelaskan bahwa wilayah Malang Raya yang mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu memiliki keunggulan komparatif yang saling melengkapi sebagai satu kesatuan ekosistem. Namun, potensi besar tersebut dinilai belum terintegrasi secara optimal lantaran minimnya intervensi arah kebijakan dan fokus anggaran dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

 

"Malang Raya ini adalah satu paket ekosistem aglomerasi wilayah yang menjadi pusat keunggulan. Jika ini dipoles, diintensifikasi, diberi arah kebijakan yang jelas, serta intervensi anggaran, ini bukan hanya menggeliatkan ekonomi masyarakat tetapi juga menjadi sumber PAD baru untuk mengatasi kekurangan fiskal," ujar Puguh.

 

Potensi Aglomerasi

Dalam pemaparannya, Puguh memetakan peran strategis masing-masing wilayah di Malang Raya

 

 

Kota Malang: Berperan sebagai pusat pendidikan dengan lebih dari 80 perguruan tinggi dan dihuni sekitar 350 ribu mahasiswa. Aktivitas akademis ini menciptakan mobilisasi massa yang masif, terutama saat momen wisuda dan akhir pekan.

 

Kota Batu: Mengandalkan kekuatan destinasi wisata alam dan buatan yang telah menembus pasar nasional hingga internasional.

Kabupaten Malang: Memiliki bentang alam yang kaya, mulai dari wisata pantai di pesisir selatan, kawasan pegunungan, hingga pertumbuhan sektor industri dan desa wisata.

 

Puguh membandingkan karakter Malang Raya dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang memiliki kemiripan tipologi sebagai pusat pendidikan, budaya, dan wisata alam. Menurutnya, kemajuan pariwisata di Yogyakarta terjadi karena adanya keberanian pemerintah daerah dalam melakukan reorientasi kebijakan dan alokasi anggaran yang fokus pada sektor tersebut.

 

"Kenapa Yogyakarta wisatanya sangat maju? Karena ada intervensi arah kebijakan dan focusing anggaran yang nyata. Di Jawa Timur, hal ini yang saya lihat belum optimal, sehingga perlu adanya refocusing anggaran guna mengakomodasi kebutuhan para pegiat wisata desa," tegasnya.

 

Tiga Pilar Dukungan Pemerintah

Untuk mewujudkan ekosistem "Sabuk Wisata Desa Malang Raya", Puguh mendorong Pemprov Jatim bersama pemerintah daerah setempat memberikan intervensi pada tiga aspek utama:

 

1. Promosi Terpadu: Melakukan gempuran promosi destinasi wisata desa secara terstruktur kepada publik nasional maupun mancanegara.

 

2. Konektivitas Infrastruktur: Membangun dan mempermudah akses transportasi yang menghubungkan antar-titik destinasi di Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang.

 

3. Peta Integrasi Informasi: Menyediakan panduan publikasi resmi bagi wisatawan sejak tiba di titik kedatangan, seperti Stasiun Malang Kota Baru. Dengan begitu, pergerakan wisatawan tidak hanya menumpuk di objek populer seperti Kota Batu atau Kayutangan Heritage, tetapi juga terdistribusi secara merata ke potensi wisata desa di sekitarnya.

 

Share with