Dalam seminar yang memadukan konsep musik dan kopi tersebut, Samuel mengupas tuntas potensi sekaligus tantangan industri kopi tanah air, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Ia menekankan bahwa pengelolaan kopi modern tidak bisa lagi hanya berfokus pada produk akhir, melainkan harus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan petani.
"Pengelolaan yang berkelanjutan adalah pondasi utama. Kita tidak hanya bicara soal menjaga kualitas biji kopi agar tetap prima, tetapi juga wajib melindungi kelestarian alam dan meningkatkan taraf hidup para petani di berbagai daerah penghasil kopi," ujar Samuel di sela-sela pemaparannya.
"Kualitas rasa dan aroma kopi sangat ditentukan oleh ketepatan proses pascapanen. Oleh karena itu, kolaborasi erat antara industri, petani, dan unsur edukasi menjadi kunci mutlak dalam memperkuat ekosistem kopi nasional kita," tegas Samuel.
Seminar ini dinilai memberikan bobot edukasi yang signifikan di tengah kemeriahan festival musik dan budaya.
Sementara itu, Dosen Pengampu mata kuliah MICE, Citra Rani Angga Riswari, S.Sos., M.Med.Kom., menyambut positif kehadiran praktisi industri dalam event mahasiswa tersebut. Menurutnya, hal ini memberikan perspektif nyata yang melengkapi teori di kelas.
"Keterlibatan praktisi seperti Pak Samuel memberikan pengalaman belajar langsung yang sangat berharga. Melalui Synchroma Fest, mahasiswa tidak sekadar belajar teknis mengelola event, tetapi juga memahami dinamika industri kopi serta pentingnya sinergi antara dunia akademik dan dunia usaha," pungkas Citra.
