SURABAYA | ROHANEWS – Ratusan elemen masyarakat sipil, mahasiswa, pekerja, dan buruh menggelar demonstrasi bertajuk "Rakyat Surabaya Menggugat" di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Senin (15/6/2026) sore.
Aksi unjuk rasa ini digelar sebagai bentuk protes terhadap sejumlah kebijakan strategis pemerintah yang dinilai mencederai demokrasi dan membebani keuangan negara.
Koordinator Lapangan Aksi Kamisan Surabaya, Muhammad Ikhsan Aditya, menyampaikan bahwa aksi ini difokuskan pada sejumlah tuntutan krusial, baik dari segi hukum, ekonomi, maupun lingkungan. Salah satu sorotan utama adalah penolakan terhadap sejumlah produk legislasi terbaru.
"Pertama, kami menuntut pencabutan revisi Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia (UU Polri) yang disahkan secara ugal-ugalan beberapa hari lalu. Kedua, kami juga mendesak pencabutan Undang-Undang TNI tahun 2025 yang berpotensi memberi karpet merah bagi praktik militerisme dan dwifungsi," ujar Ikhsan saat dikonfirmasi di lokasi aksi.
Selain isu legislasi, massa aksi juga menyoroti kebijakan ekonomi pemerintah saat ini. Mereka secara tegas menuntut penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Menurut para demonstran, kedua program tersebut merupakan langkah inefisiensi yang sangat membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Lebih lanjut, elemen masyarakat sipil Surabaya ini juga membawa sejumlah tuntutan lain terkait kesejahteraan rakyat dan kelestarian lingkungan, di antaranya
Penurunan Harga BBM: Mendesak pemerintah untuk segera menurunkan dan menstabilkan harga Bahan Bakar Minyak.
Penguatan Rupiah: Menuntut adanya kebijakan ekonomi makro yang konkret untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang berimbas pada harga kebutuhan pokok.
Penghentian Eksploitasi Alam: Mendesak pemerintah untuk menghentikan segala bentuk perusakan dan eksploitasi sumber daya alam.
Terkait lokasi, Ikhsan menjelaskan bahwa pemilihan Gedung Negara Grahadi sebagai titik kumpul didasarkan pada nilai strategis dan historis kawasan tersebut. Berada di jalur lalu lintas utama jantung kota Surabaya, aksi ini diharapkan dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat luas.
"Grahadi itu bagian dari jalan yang lumrah dilewati oleh rakyat Surabaya. Di sana terdapat gedung yang bersejarah, dan kami berharap penyampaian aspirasi di tempat ini dapat memantik warga Surabaya agar makin peduli terhadap isu-isu kerakyatan dan persoalan negara," tuturnya.
Aksi "Rakyat Surabaya Menggugat" ini berlangsung secara terbuka dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat sipil. Ikhsan menegaskan bahwa unjuk rasa hari ini merupakan respons awal dari masyarakat dan berpotensi membesar jika pemerintah tidak segera mengevaluasi kebijakan-kebijakannya.
